Minggu, 28 Juni 2015 |

Bergandeng cerita dengan Tuan


Saat kau menggandeng tanganku ^_^, tapi sayang kita tak tertangkap oleh kamera

Cerita yang telah dipahat oleh  sang tuan telah menggunting ketenangan yakinku.  Harusnya aku menyanyikan lagu keindahan malam ini. Indah karena mataku telah kau manjakan dengan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ku nikmati di kota lahirku. 

Keringat dengan kalemnya membanjiri seluruh jilbab, matahari pun dengan angkuh menyengat wajah sawo matangku sehingga berubah menjadi coklat kehitam-hitaman. Semuanya tak merangsang mulut ini untuk mengeluh, kenapa? karena aku bahagia bergandeng tangan dengaan cerita yang kau suguhkan, menghayati makna yang kau siratkan dalam senyumu Tuan J

Aku pun ingin mengabadikan semua tentang kita  saat pertama kali aku mencium tanganmu di kereta, saat ku memperkenalkan nama  dan seabrek aktivitasku setelah sarjana hingga sekarang.  

Satu hal yang ku suka dari mu ternyata kau sangat cepat sekali mengingat namaku, bahkan dengan lengkapnya kau memanggilku saat kau meminta tolong untuk mengiris brambang dan meniriskan ikan lele di dapur, padahal kita belum 24 jam bertukar emosi kan tuan? Aku serasa sudah seperti setahun didekatmu. Ah daya tarikmu sungguh buatku untuk mengenalmu lebih jauh.

Aku mengagumimu ,tuan J. Ada karisma tersendiri yang ku culik dari kesan perkenalan pertama. Kau sangat unik dan langka. Aku ingin menjadi sebagian dari mimpi dan targetmu. Aku pun ingin meng copas segudang semangatmu yang di usia 64 masih mau belajar disuatu universitas tahfidz dan hadis, bergabung dengan orang-orang seusiaku. 

Semua cucumu meminta untuk di manja tapi kau masih bisa menularkan energi rukhiyahmu pada orang sekitar, harusnya di usiamu yang telah pensiun telah berdiam diri untuk meluruskan sakit yang bengkok , tapi ? ternyata dibalik bengkok itu kau memendam lima ribu irisan pedang, tuan? Allah... kenapa ceritaku malam ini kau tutup dengan air mata bersama orang yang harusnya aku bela?


Tuan...? Malam ini aku nelangsa dengan tawamu. Tawa yang kau bungkus dengan anggun hingga yang tersisa adalah sebuah penyesalan yang terlambat?

Tuan...?
Ku pikir kau telah merebahkan tubuhmu dengan aktivitas kita hari ini, tapi sempat-sempatnya kau mengingatkanku bahwa besok pagi aku harus udah siap-siap ,mandi lebih awal untuk menemanimu ke salah satu rumah sakit di Surabaya. Ku iyakan tawaranmu, karena ku tau ada sejuta  hikmah yang akan kau suntikan pada diriku esok hari, diri  yang kadang lupa bagaimana cara bersyukur.



Terimakasih tuan ...
Terimakasih telah mengajarkanku kehidupan yang sesungguhnya. Hehe aku masih menari-menari dengan godaanmu tadi tentang pasangan pernikahan. Tapi ternyata kau memadukan dengan pil pahit yang sulit kutelan. Aku tak ingin memberi label bahwa ini cerita indah, tapi cerita klasik yang yang menciptakan sebuah nelangsa.



Sekali lagi terimakasih tuan.
Saat  menulis ini Mataku setengah sayu 15 wat, dengan segelas pening di kepala.  Di angka  23 :27.
Saat semua terlelap dan mendengkur

Surabaya, Minggu 28 Juni 2015
Perumahan Mutiara Citra graha




3 senja:

Idrus Dama mengatakan...

Syukran telah berbagi cerita.... Alhamdulillah malowali...!!

khulatul mubarokah mengatakan...

Boleh nitip salam untuk Tuan J?

Nol kecil mengatakan...

Hehe in syaa Allah yaa bunda klu ketemu lagi
Cz beliau tglnya di surabaya dn muty skrng msih di solo...

Makasih bundaaa udah mampir