Minggu, 25 Oktober 2015 |

My only "NUNU"

***
Sejenak Aku memilih sepi..
mengapresiasi sunyi pada bunyi ..
Menghargai angin pada api..
***
Aku disini, Dibawah langit beratapkan daun dan ranting, menghadap menara mesjid yang menjulang tinggi.

Inilah habitatku ketika menyatukan dua warna cerita.
Cerita indah untuk dikenang pada awan
atau cerita manis  untuk dirahasiakan pada pohon yang nelangsa..
Nelangsa merindukan oase sang penggenggam hujan
Aku disini ditemani kemarau yang tak bertuan
Betapa  cahaya yang kukadung adalah rahmat
Yang pantas menemanimu saat berkeringat
***

"Hei, Dansa yuk!"
"Dansa? Aku nggak bisa!"
"Aku ajarin !"

Sang rumput bergoyang. Dia menarik  tubuhku untuk berdansa, tubuh yang terjebak pada satu musim.

“ Berikan tanganmu!".
Dengan ragu- ragu Aku menggulurkan tangan. Ia membimbingku berdiri. Kulihat wajahnya sangat kusam kekuning-kuningan. Seperti lagi merindu pada sekawanan air.

Aku menyambut tangannya mengikuti goyangannya.

“ Kenapa wajahmu kusam sekali?” Aku merapikan rambutnya yang dipenuhi debu.

“Perhatikan langkah kakiku ! dan jawab pertanyanku, Apakah kau memiliki sahabat?! Kau tak usah pusing dengan penampilanku, sebentar lagi langit akan menangis, kayuhan doa peminta hujan akan segera diijabah”. 

Sekejap , kulihat keseriusan di matanya. Cuman sekejap, sebelum kembali ia menarik tanganku untuk berdansa.

“Hmm.. Dulu aku memiliki sahabat dekat,kemana-mana kita selalu bersama, bahkan mimpi, target, dan cita-cita kita selalu senada, namun  ada jarak yang memisahkan aku dengannya.” 
Aku mengikuti langkahnya dengan kaku dan terlambat.

“Apa itu?”

“Komunikasi ”

“Dimana dia sekarang?”

“Di Gorontalo”

“Apa kau masih menganggap ia sebagai sahabatmu?”

“Iya..”. Lidahku berujar datar.

“Kenapa?”. Tanda tanya dikepalanya semakin beranak pinak

“Karena Aku masih melangitkan namanya bersama senja di ujung lazuardi”

“Dia tau tentang hal itu?”

“Allahu’alam”

 “Ayo ikuti langkahku! Utamakan langkah kaki!". Pelan-pelan aku mengikutinya, ternyata aku bisa berdansa  dengan rumput yang bergoyang.

“Kenapa kamu masih saja mendoakannya? Mungkin saja dia sudah memiliki sahabat baru dan terbaik darimu atau bahkan ia telah melupakanmu”. Rumput itu menari dengan lincah.

Sejenak aku terdiam. Apa mungkin Ia telah melupakanku.

“Emm mm karena aku ingin menjadi sahabat sejatinya tanpa harus ia tau. Hanya kau dan Allah yang tau rahasia ini. Aku selalu meneriakan namanya di kaki malam.”

“Kenapa kau melakukan itu?”

“Karena Aku tak ingin jadi musuhnya di Akherat. 
dan Jika suatu saat aku dan dia  terjebak diantara dua jalan - surga dan neraka, maka doa itu yang akan ku jadikan penyelamat.”

"Apa?! Musuh? Aku tak mengerti maksudmu"

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa ( Q.S. Az- Zu-Zukhruf : 67). Itu Janji Tuhanku pada mahluk pribumi."

“Apa yang membuatmu sedemikian itu?”

“Karena sahabat sejati itu bukanlah orang yang selalu bertatap muka, tertawa ria meneriakan kesuksesan dan menangis bersama meratapi kegagalan, tapi sahabat itu yang berhasil mengistimewakan kehadirannya di langit , dan berusaha mencintainya seperti aku mencintai diriku sendiri”

“Seistimewa apakah sahabatmu itu? Bolehkan aku mengenalinya?”

Aku mengangguk. “Boleh, tapi kau cukup mengintipnya dibalik Deari , kemarin adalah ultahnya yang ke 25, Aku telah menemuinya di doa dan memeluknya lewat gugusan aksara.

Mungkin ini terlalu sederhana untuk dijadikan hadiah, tapi tak apalah, bagiku istimewa dilangit lebih berkelas untuknya dari pada Aku ajak ia bereuforia dibumi."

Aku mendesah,mengangkat wajah dan menatap rumput kering itu dalam-dalam. 

Sekarang giliranku menarik tubuh sang rumput pada satu Deari tentang life story Aku dan sahabatku 

***
Life story  Aku dan sahabat

Disuatu pagi...
Di Universitas Negeri di Gorontalo
Aku dan kamu

Ketika itu kulihat kamu berjalan melewati perpustakaan pusat . Kamu seperti orang yang lagi kebingungan mencari tulang rusuk yang hilang. Saling bertatapan, saling menemukan, seakan diantara  kita mengharapkan ada yang  datang mendekat.

Senyum manismu menjelma sebuah magnet yang entah kenapa menarik langkahku kepadamu.

“Hai..” senyum hangat ku  lemparkan untukmu.

“Em mm iya.. hai juga..”. Kamu ternyata sangat pemalu. Jilbab putihmu  memancarkan aura keteduhan untuk dipandang.

“Mau kemana?”. Kamu menatapku dengan wajah lugu dan polos

“Mau Kemesjid kampus, kalau kamu mau kemana? Lagi nunggu seseorang ya?”.

“Wah kebetulan kita searah, barengan ya, Aku mau ke butik beli kaus kaki”.

Saat itu kita bergandeng tangan melewati beberapa fakultas. Kamu pendiam bangat saat itu, akhirnya Aku yang membuka pembicaraan.

“Namamu orin Atau Olin? dikelas ada yang manggil orin, ada juga yang manggil olin, hehe… Aku bingung manggil siapa, makanya aku tanya langsung ke orangnya aja”.

Saat itu kamu tertawa kalem mendengar pertanyaanku.

“ ckckck Orin adalah nama asliku, dan Olin adalah sapaan khusus nenek-nenek yang sudah tak bisa menyebut huruf “R” hehehe” .

Serentak tawa kita pecah berserakan dalam keakraban. Ternyata kamu orangnya sangat menyenangkan  dari pada yang ku kira.Terus terang saat dikelas aku mikirnya kamu sombong, soalnya banyak diamnya. Hehe.

“Oia perkenalkan namaku Muthmainnah, panggil saja Muty” Kau meraih tanganku dan kembali merunduk.

***
Disuatu Senja
Dilangit sisi langit barat
Aku dan Kamu

Selalu ada cerita jika kita bersama
Masih ingatkan  ketika lagu yang kau ciptakan untukku menjadi trending topic dikelas. Semua pada ikut-ikutan berdendang melagukan nama kita berdua.

Ketika  mimpi, cita-cita dan target kita senada dan terabadikan pada sebuah kertas. Kamu mengatakan peta kehidupan. Kita berjanji akan mencentangnya diwaktu yang tepat. Going the extra miles menjadi kekuatan kita. Man Jadda wa jada !


Belajar ke Luar Negeri. Kamu ke Eropa dan Aku ke Mekah (Ummul Quro’)

Membangun perpustakaan pribadi dan anak-anak kurang mampu
Menjadi Trainer dan Penulis
Mondok Tahfidz setelah sarjana dan mendirikan rumah Qur'an
Membelikan rumah untuk mama
Haji bersama mama
Beasiswa Luar Negeri
Wisudah tempat waktu
Mendirikan panti asuhan dan pondok sastra
Guru bahasa Inggris yang dirindukan kehadirannya oleh siswa


“ Siapa yang bermimpi besar
Maka dia percaya bahwa Allah maha besar
Siapa yang bercita-cita menjadi kaya maka dia percaya bahwa Allah maha Kaya”


***
Di episode yang tak bernama
Aku dan kamu

Hingga disuatu hari komunikasi sempat menggunting kedekatan kita. Itulah persahabatan, Ia seperti untaian kata yang menjadi kalimat. Untuk menjadi untaian itu, kata butuh spasi, butuh jarak.

Saat itu aku menangisi kepergianmu ke Luar Negeri. Sebuah benda kecil berisi kenangan yang terajut dari awal kau lagukan dalam sebuah kotak kecil. Menampar keegoisanku yang selama ini belum terasah.

Namun pada akhirnya, kekuatan doa dan ikatan hatilah yang kembali menyatukan kita. Karena tiap sudut dari aku dan kamu memiliki makna tersendiri untuk saling mengisi kekosongan yang akan menjadikan kita dewasa memaknai arti sahabat.

Maka dari itu aku mulai menyimpan Kunci rahasia untuk mengawetkan sebuah hubungan, Kunci itu adalah komunikasi.
***

Teruntuk my best friend di Gorontalo, Olin harun,S.Pd
Happy Milad ya..
Aku selalu mengamatimu dari jauh, tapi selalu mendekatkan hati dalam doa agar di akherat banyak yang akan menyaksikan kita bahwa  aku dan kamu menjalin persahabatan atas nama DIA. Allah SWT ^_^

 Barakallah fiyk Nunuku sayang.
Ty sayang Nunu karena Allah..

Ada rindu ketika melihat tarian kupu-kupu
Ada rindu ketika melihat vidio kirimanmu
Ada rindu ketika Aroma by fresh Apel membius ruangan
Ada Rindu ketika Gitar tua memainkan lagu cerita tentang kita
Ada Rindu ketika Warna biru menyibakan wujudnya pada alam
Ada Rindu ketika melihat tumpukan buku

Miss U Nunu Orin
Ada rindu, ketika Panggilan “Nunu” hanya kita yang memiliki.

Solo, 26 Oktober 2015
Pondok Pesantren Tahfidz wa Ta’limil Qur’an Surakarta
 Nunumu, Nunu Muty

Ty masih menyimpan pakaiian kembar kita^_^ setiap mau kuliah pasti kita saling smsan mau pake baju apa. Aah Ty rindu masa- masa itu Nunu.
(Di usia 19 tahun)




Ada cerita disetiap senyum ^_^ bahkan cemburu pun pernah mengusik waktunya kita dalam menata hati, menata rindu, dan menata masa depan
Tak terasa ya sekarang Usia kita mulai bermain dengan lika-liku kehidupan. Tatapan kita kadang nyaris mengalahkan Asa yang dulu kita azamkan dalam hati. Semoga kelak tak ada yang memisahkan persahabatan kita kecuali Kematian ^_^
(Di usia 24-25 tahun)
















26 senja:

Achmad Muttohar mengatakan...

Happy milad ya buat Nunu Orin. Tulisannya keren. Salam kenal, kak. Aku baru pertama kali ini berkunjung ke blog kakak. Semoga kita bisa berteman seperti kau berteman dengan Nunu. :)

Anjar Sundari mengatakan...

bahagianya menjadi Nunu karena mempunyai sahabat seperti mbak Muty... :)

Ara AnggARA mengatakan...

Selamat ulang tahun buat temenmu

wah karyanya bagus banget banyak majas juga sama penggunaan kata yang terkesan indah kalau diucap

sahabat sejati walau tidak bertatap muka tapi akan selalu ingat dan tetap mendoakan

Bastian Saputro mengatakan...

Ini beberapa cerita digabung jadi satu post ya...
Bagus ceritanya, mengalir, sampe ga kerasa kalo udah baca sampe akhir, hehehee... :D

Selamat ulang tahun ya buat nunu!
Semoga makin awet kalian sahabatannya :)

Btw, salam kenal juga ya Muty...

Ace Maxs mengatakan...

:) salam blogger

ponco adi nugroho mengatakan...

Selamat ulang tahun buat sahbatnya.

Berat emang harus pisah dari sahabat. Komunikasi jadi dinding terbesar. Semoga impian-impian kalian tercapai, dan bertemu kembali untuk mewujudkan impian kalian berdia.

nur shodiq mengatakan...

Rindu sahabat ya... Jika tidak dengan do'a dengan apalagi kita membuktikan_nya..
Selamat ulang tahun untuk sahabat kamu ya.
Suka dengan tulisan yang kayak gini. :)

Nursahid Rm mengatakan...

Persahabatan yang luar biasa.
kalimat-kalimatnya sungguh indah. Selamat ulang tahun buat sahabatmu. Semoga persahabatan terus terjalin sampai tutup usia.

Aldi Rahman mengatakan...

mempunyai sahabat pasti menyenangkan sekali, sayangnya sahabat saya memutuskan untuk berhenti kuliah. Intinya lebih enak punya sahabat, daripada sendirian :)

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Terimakasih yaaa dik Ahmad pecinta kuliner...hehe
Salam kenal juga.. aamiin...semoga yaa... biar ada yg ngajak kk merasakan kuliner tradisional di Kota jogja. Hehehe...
Terimakasih udah mampir ^^

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Ty juga bahagia karena memiliki mbak Anjar sayang, sahabat blog muslimah di Semarang hehe....
Terimakasih mbakkuuu...

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Waalaikumusalam warahmatullah...ace

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Wah walaupun ngk kuliah semoga kalian masih tetap menjadi sahabat....Aldi ^^

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Terimakasih mas kawan.... hehe
Aaamiiin aamiiiin.....

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Hehe Terimakasiiiih Mas Shodiq...
yup... doa adalah perantara untuk menyampaikan rindu..

Suka juga dgn tulisan fiksi mas Nur

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Allahuma aamiiiin.....
Thanks yaaaa kakak Ponco^^

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Hhi iyaaa... ceritanya aku lg mengajak rumput yg berdansa dgnku berkenalan dgn sahabatku lewat paragraf...

Thanks jugaa yaa udah baca sampe akhir... hehehe

Salam kenal juga..hehehe smga kita bisa berteman dgn baik ^^

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Aduuh thanks Ara.... tulisanmu tuh yg baguus... jadi malu dibaca sama kamu hha...

Btw aamiin aamiiin thanks ya...

Heru Arya mengatakan...

Akhirnya, bisa juga mampir ke sini. Maaf ya muth, baru ada waktu kosong. Komentarmu saja, baru gue bales.

Gini, gue mau bilang soal tulisannya. Perfect banget. Diksinya jago abis....... Syahlud ni. Keknya perlu belajar sama Muthmainnah ni. Keren banget.

Ow, ya. Selamat ulang tahun buat temen mu, ya. Nunu. Semoga sehat selalu dan kalian selalu jadi sahabat yg hebat. Tegaskan alammu, guncangkan asamu dan biarkan langit yg menilai.

Izzawa mengatakan...

Kalian mirip yaa...smoga sahabat ti diberi umur yg berkah dan.persahabatan kalian sampai ke surga ;-)

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Aaah pangeran wortel pintar sekali bermain dibalik litotes......yg sebenarmya piawai memerdekakan diksi adalah pangeran wortel...
Aku aja baca tulisan mas sampe melongo dan kagum dengan gaya penulisannya... hho...

But thanks yaaa udah main ke sini.... komentar mas wortel nyaris merubuhkan atap karena terlalu berlebihan hha....

Makasiih atas pesan persahabatannya yg sarat makna...^^

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Hihi ada kk Izzawa ^^..
Sebagian orang sering blg gitu.. mgkin krn sering jalan bareng.

Allahuma aamiin aamiin.. makasiih kk sayang...

Yandhi Ramadhana mengatakan...

agak bingung pas di bagian dialog :"(
agak panjang nya postingannya, kenapa enggak dipisah aja mba?
fontnya berubah2, kayaknya ini gabungan dari beberapa file ya, lah ini kenapa gw jadi ngoreksi mulu. maaf ya...
*nunduk ala orang jepang

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Hihihi...aduh punten guru...
Iyaaa ini percakapanya punya 2 latar yg berbeda. Hha maaf membingungkan yaaa

Ceritanya aku lg menceritakan ttg life storyku kpd rumput yg katanya ingin mengenal sahabt dekatku. Aku kenalkan ia lewat gugusan aksara yg ada di diari..
Weka wekaa
Siiip makasiih masukannya mas guru..... jadi bahan pelajaran untuk cerita selanjutnya

Tp ini terlepas dr aturan... ini hanya tulisan bebas sbgai hadiah untuk sahabatku ajaa ... hihia

Mei Wulandari mengatakan...

Solo???
Sya jg orang Solo hehehe

Pilihaj katanya bagus. Aku kira td mau nulis novel lho. Smg persahabatan kalian kekal abadi yaaa
Tetap dijaga mst jarak memisahkan :)

Arina Mabruroh mengatakan...

Semoga menjadi sahabat hingga jannah, aamiin..