Minggu, 04 Oktober 2015 |

Dalam Diam memendam rasa?

Saling Mengagumi dalam diam? Nyesek banget kan. Apalagi rasa itu kita pendam dalam waktu lama. 


Pekatnya rindu terasa seperti kopi pahit tumpah dari kelopak mata. (Ih lebay..)



Sangsi untuk saling menemukan rasa yang sama, akhirnya bantal guling menjadi sasaran  tumpuan sungai kecil di wajah. (Huaa.. capek deh)

“What’s going on? tenangkah kita? Apakah dengan mengumbar perasaan  yang belum halal aktivitas  kita jauh lebih produktif dari sebelumnya? Atau malah hadir rasa buah simalakama yang lebih pahit dari mengagumi dalam diam?.” 


Pertanyaan ini saya tujukan pada adik mentor saya di Putih abu-abu dan Mahasiswa
Sebut saja nama mereka Edelwis dan Erika. (Nama samaran)

Edelwis bercerita, “Kak, Aku tak bisa mengendalikan rasa kagum ini  pada laki-laki itu, rasa ini bak panah yang lepas dari busurnya, lepaslah rasa malu ini. Seandainya seekor penyu, Aku telah memasukan kepala ini dalam cangkang seutuhnya.”

“Loh kenapa?” Tanya saya selidik sambil memahami bahasa metafora yang terucap darinya. Maklum sang adik adalah anak sastra. Ternyata didominasi rasa GR si Cowok itu tidak merespon perasaannya sang gadis, bahkan mendiamkan dengan sikap manisnya.

Selanjutnya si Erika, adik mentor saya di kampus. Saat itu sungai diujung matanya jebol di pundah saya ."Laki-laki itu  membohongiku kak, padahal kemarin mau  melamar..". 


“Melamar? Sepasang mata menyorot dengan sejuta tanya kepada sang Adik.

 "Awalnya kita saling mencintai dalam diam. Tetapi ternyata ketika rasa itu memuncak kita tak tahan lagi untuk memendam. Backstreet pun menjadi status kami. Dia berjanji akan melamar dan mengkhitbah. Namun ternyata akhir-akhir ini dia ketauan lagi PDKT dengan wanita lain di dunia maya. Aku merasa malu  dah terlanjur mengekspos semua rasa yang selama ini terpendam dengannya. Malah dia membeberkan dengan bangga ke teman-teman cowoknya kalau Aku menyukainya.
Aku down kak, aktivitas tidak produktif, IPK menurun dan ini adalah hadiah terburuk. Aku malu kak".  Isak tangisnya semakin berhamburan dijilbab saya.

Glek! speechlees sesaat mau ngomong apa. Akhirnya saya tenangkan sang adik kemudian menyelipkan nasehat yang selalu saya teriakan pada diri ketika merasakan hal yang sama.

Kalau saya pribadi Alhamdulillah walaupun sakitnya memendam rasa pernah menyita waktu belajar, tapi saya yakin pasti lebih sakit dan malu jika kita dikalahkan oleh rasa  dan mengobralnya segampang itu.

Sebagian teman saya sering mengatakan saya seperti adem adem aja nggak pernah galau tentang rasa, padahal mereka tak tau saya sering berkelahi dengan sejuta rasa, dan itu tak bisa dipungkiri karena itu adalah fitrah manusia. Tinggal bagaimana kita bermain cantik untuk menepisnya agar kelihatan anggun dan tak merendahkan harga diri seorang perempuan.

Apa yang saya lakukan jika mulai digerogoti rasa yang ingin di dendangkan sebelum waktunya? Saya selalu mengamalkan nasehat ulama terdahulu yang mengingat  kekurangan-kekurangan orang yang saya kagumi yang secara kebetulan terpotret oleh kamera mata. 

Jika para ulama dulu cukup dengan mengingat maka Saya menulisnya di selembar kertas sebanyak mungkin . Contohnya: 
Dia orangnya suka ngeluh di Medsos, apa apa ngeluh (Padahal diri saya kadang suka gitu) 
Dia orangnya moderat tapi terlalu ambisius mengejar prestasi,sampai jarang ikutan ngaji
Dia orangnya sok pintar gitu negur orang depan umum, Emosinya meledak –ledak, tempramental.
Dia orangnya elegant en intelegent sih tapi suka bicara pake rasio ketimbang iman.
Dia suka tepos ke semua gadis, belum lagi gaya hidupnya terlalu "WAH"
Dia terlalu over ideal,Sangat agresif
Dia orangnya ngk visioner, ngk punya visi misi kedepan, sukanya nyantai 



Hehe.. Ini bukan untuk mencari aib dari saudara tapi ini adalah terapi saya untuk menepis rasa yang hadir sebelum waktunya. Karena bagi saya semakin rasa itu dipupuk maka akan tumbuh subur dan pasti akan berakar. 



Jika akarnya sudah kuat pasti sangat susah untuk move on bukan? Apalagi jika kita belum siap untuk menuju ke gerbang pernikahan? Yang ada malah saling menggunting waktu produktif. Harusnya udah berkarya tapi malah sibuk dengan rasa sesaat yang dipoles oleh syetan untuk mempermalukan kita dihadan Tuhan.



Ketika orang lain sudah melahirkan karya dan merealisasikan mimpinya kok kita hanya digalaukan dengan orang yang belum jelas akan jadi imam kita?



Kalaupun waktu yang tepat sudah datang maka terapy ini mungkin akan bergeser sedikit karena saya pun meyakini setiap orang pasti memiliki kekurangan. Hal ini hanya berlaku untuk penjagaan diri dan hati saat belum siap menikah dan masih berstatus sebagai pelajar seperti saya.



Selain itu saya banyak mengoleksi doa penjaga hati untuk dilantunkan diwaktu-waktu yang maqbul 



“Ya Allah yang membolak-balikan mata hati, tetapkanlah hatiku diatas agamaMu”



Selanjutnya doa ke dua yang jadi langganan saya



“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan Aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada CintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai dari pada diriku dan keluargaku serta air dingin (Riwayat At Tirmidzi).



Alhamdulillah dengan sendirinya rasa itu akan pudar seketika. 



Mahkota perempuan itu ada pada rasa malunya. Ketika kita tidak mampu lagi dibendung oleh rasa cinta yang pada dasarnya adalah fitrah, maka tengok kembali kisah Fatimah dan Ali yang menyimpan rasa hingga ketaatan mereka pada Allah yang mempertemukan mereka.



Ketika ada laki-laki  melamar by medsos kita jangan langsung keGeeran. Bisa jadi kita tidak dijadikan tujuan tapi hanya pilihan. Jadi jangan GR dulu jika ada yang menaruh perhatian pada kita, karena disaat yang sama dia juga mengobral perhatian pada gadis yang lebih cantik dari kita. Hehe.



Modal yang kita harapkan itu adalah keberanian mengetuk pintu rumah dan bersalaman dengan sang bapak .Selanjutnya? Iya terserah kita mau taaruf dulu, atau minta disegerakan saja jika sudah mengenal kepribadiannya.



So, Kesimpulannya kita sebagai wanita Jomblo jangan cepat terbuai dengan gombalan lelaki. Sekalipun lelaki itu telah bergelar ikhwan, ustat, atau santri tulen yang telah bertahun-tahun di pondok pesantren. Mereka juga manusia biasa bukan malaikat yang steril dari namanya nafsu syahwat.



Cinta dan mencintai yang belum halal itu seperti menyeruput kopi, semakin dinikmati semakin keliatan ampasnya. 



Solusi menggendalikan hawa nafsu kita adalah menikah, Jika belum mampu, pantaskan diri dulu dihadapan Allah agar mampu menjadikan yang haram menjadi halal.


Kadang diam itu proses sementara. Karena tak perlu ada yang tersakiti sampai ikatan yang halal mempertemukan.


NB :

Kisah dua adik tingkat ini sengaja saya abadikan dalam aksara sebagai alarm untuk diri saya ketika suatu hari digalaukan oleh sesuatu yang telah menjadi fitrah. Dalam diam Dia memerhati, dalam diam Dia menemani. Allah.

25 senja:

arum kusuma mengatakan...

Saya baca tulisan ini, jadi malu sendiri.. saya memang sudah bertahun tahun gak ingin pacaran padahal saya juga sebenernya punya incaran, itu salah gak sih?

Saya janji ke diri saya sendiri seberapa besar rasa untuknya gak akan pernah mau jadi pacar, kecuali jika dia melamar saya..

Haduh sepertinya saya sudah berbicara terlalu dalam. Sedalam sumur hahaha

Mugniar mengatakan...

Muthi jujur. Saya salut. Dan salut sama kiat2nya. Insya Allah akan bertemu yang terbaik dan semuanya akan indah pada waktunya ^_^

sabda awal mengatakan...

wahh, hebat bener bisa di khitbah lewat sms, itu apa sih maksudnya? bukan khitbah namanya, harusnya datang ke rumah dong. Apalagi si kaka di lamar lewat medsos? hah? lamarkan bukan proses yang "enak" masak segampang itu lewat sosmed?

Ummi Nadliroh mengatakan...

Dulu, kalau sedang memendam rasa, saya banyak2 berdo'a kepada-Nya., mohon yg terbaik menurut Dia. Alhamdulillah Dia memudahkan prosesnya ketika saatnya tiba.

Cilembu thea mengatakan...

tengah malam membuka blognya di artikel DalamDiam Memendam rasa di suguhi petikan melodi cantik dari mang mozas...sangat mengharu birukan kalbu yang kebetulan sedang nelongso.
pas baca untaiankata yang tersuguh...brebesmili deh kelopak mataku.

nani djabar mengatakan...

Ikhwan juga manusia...hehehe...hati2 n jaga kemuliaan sbg muslimah... wanita taat akn bersanding dg pria taat :)

Nol kecil mengatakan...

Siaap mbak Nani.... :-D
Semoga kami yg masih jom... istiqomah dalam taat kepadaNya

Nol kecil mengatakan...

Huaaa... banjir dong
mas thea lucu

Nol kecil mengatakan...

Iyaa bunda...
Semoga kami bisa dimudahkan jg prosesnya...
Makasih bunda

Nol kecil mengatakan...

Hho ngk tau tuh...
Ini hanya kisah adik mentor saya dulu pas kuliah..

Nol kecil mengatakan...

Allahuma aamiin...
Makasih bundaku atas doanya...^_^
Salam buat dd fasya

Nol kecil mengatakan...

Hehehe....
dek Arum, Kata ust burhon mendingan jadi cewek jomblo yg pingsan bertahun tahun dibangunkan oleh cowok halal ketimbang mrnjadi cewek yg dibangunkan dgn rayuan rayuan kodok belang.

Semoga pelajaran diatas bisa diambil hikmahnya yaa dear...

Widy Darma mengatakan...

Entah ya.. walaupun dipendam 'gelombang cinta'-nya tetap saja sampai ke dia. Hihihihi... Mungkin itu sebenarnya kuasa Alloh.

Akupun gitu sama calonku, diem-diem-diemmmmmmmmmmmmm sengaja tak umpetin nanti keliatannya pas udah di pelaminan aja hahaha


tapi jadinya aku sering dijodohin orang, dikira jomblo -_-" kzl

Dee Ann Rosediana mengatakan...

Hmm... kalau dibaca, baper juga, ya. Hihi... rsanya setiap perempuan pernah deh dalam masa2 "memendam rasa". -_-'

nur shodiq mengatakan...

Sebenernya cinta dalam diam itu baik atau buruk?
Mengandung hikmah banget tulisannya.

Nol kecil mengatakan...

Ciyeee mbak Widiii....
Yg penting ngk ditanyain "kapan nikah" yaa mbakk... hehehe kayak tulisan mbak diblog kmrin.

Gpp dijodohin yg penting prosesnya berkah yaa mbaak...:-D

Nol kecil mengatakan...

Mbak Dee : Hehehe.... iyaa tapi hanya sesaat kan mbak.. habis itu fokuus lagii ke yg prioritas utama sbg seorang perempuan..:-D

Nol kecil mengatakan...

Mbak Dee : Hehehe.... iyaa tapi hanya sesaat kan mbak.. habis itu fokuus lagii ke yg prioritas utama sbg seorang perempuan..:-D

Nol kecil mengatakan...

Mas Nur : Ngk ada yg buruuk.... itu semua fitrah .. tgl bgaimana kita bisa menatanya biar kualitas diamnya anggun...hhoo..

hennyfaridah.name mengatakan...

Alhamdulillah, semua mudah dijalani dan akhirnya....

arum kusuma mengatakan...

Heemm bener sih..

Perumpamaannya lucu kodok belang hahaha

Agnes Pratiwi Puspanagari mengatakan...

keren kak postingannya. bisa jadi obat saat galau :D

Nol kecil mengatakan...

Ciyeee lagi galau...
Gpp galau dimasa muda, wajar ... yg penting masih bisa dikontrol.☺

Terimakasiih dek agnes...

Nol kecil mengatakan...

Hihii dan akhirnya indah diwaktu yg tepat...

Atika Nabilla mengatakan...

Mendem rasa itu emanggak enak. Gimana ya kalo orang yang di suka itu jauh dari dunia luar. Kuat agamanya. Kuat ngajinya. Dia berada di jalan Allah. Sama sama di sana. Terus gimana ?