Jumat, 04 September 2015 |

Anggun dalam mengemas emosi

Pernahkah kita diteriaki oleh seseorang dengan nada suara yang tinggi? Apalagi itu dilakukan di depan orang banyak. Rasanya pasti nyesek dan ada dorongan ingin melawan untuk melakukan hal yang sama. Rasa itu adalah wajar karena kita tidak lepas dari yang namanya kantong emosi, tinggal bagaimana cara kita mengemas emosi itu menjadi lebih anggun.


Dalam kehidupan sehari-sehari kita pasti sering menyaksikan karakter orang-orang seperti itu, entah itu dilakukan pada diri kita atau orang terdekat. Gimana jadinya jika kita ikut membalas dan melakukan hal yang sama? Jawabnya adalah kita tidak ada bedanya dengan mereka yang sama-sama berperangai buruk, bukankah orang yang paling kuat adalah orang yang bisa menahan emosinya? Iya menahan emosi marah ketika ia memiliki peluang untuk memberi umpan balik yang lebih tajam.


Cara Allah untuk mematangkan sifat bijak seseorang adalah dengan kejutan-kejutan kecil berupa hadirnya orang-orang yang tak dirindukan kehadirannya, Mengapa? agar kita menjadi pribadi unggul dalam kelas mental dan spritual. Jika secara Intelektual kita sudah oke melahap teorinya, maka saatnya kita mempraktekan dalam kehidupan masing-masing.


Sejatinya kecerdasan emosi dan spritual adalah pucuk yang paling didambakan oleh seluruh penghuni langit. Dari segi spritual kita mendapat pahala karena mampu mengamalkan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai muslim/muslimah yang taat. Sedangkan dari segi mental kita bak paku yang kuat karena tempaan sang palu, semakin diketuk maka ia semakin dalam dan kuat. Hal ini yang akan kita alami nanti, kita akan dewasa dengan cara Allah, bukan dewasa yang dibuat-buat untuk menutupi sifat kekanakan kita didepan orang. Kita akan termasuk a few good ones yang memiliki kecerdasan langit .


Menikmati hidangan langit dengan cara yang lebih anggun adalah irama kehidupan yang disediakan oleh alam agar kita bisa memainkan dengan lembut dan sentuhan.

Jangan sampai sifat kasar orang lain akan mewarnai kita untuk menirunya secara tak sengaja karena tak ingin kalah. Cukup langitkan doa, selanjutnya perlakukan ia dengan cara yang berbeda, berbeda disini maksudanya yakni beda dengan caranya memperlakukan kita, karena kita adalah ciptaan Allah yang ditakdirkan menjadi pembeda mana yang baik dan mana yang buruk.

Saya teringat seorang sahabat yang ketika itu ia dipermalukan didepan orang, dikata-katai denga tidak sopan . Disaat yang sama sang sahabat ternyata sementara mempraktekan jurus cocktail cinta yang baru saja ia baca dari buku dakwah. Ia pun tak membalas umpatan itu. Cukup kalem berbalut senyum yang ternyata hanya menambah ribut kawannya yang sedang marah. Sahabat saya pun berusaha melawan Getaran emosi yang ingin sekali ia tumpahkan dengan segelas doa cinta pengikat hati. Matanya pun sempat basah karena sensitifnya yang dalam.


Tak sampai disitu dia pun mulai beraksi mengamalkan ilmu yang baru saja ia pelajari. Ia segera ke toko buku dan memilih hadiah terbaik untuk sang kawan yang baru saja menyakitinya. Kebetulan sang sahabat mengahafal setiap tanggal lahir teman sekelasnya, dan seminggu lagi ternyata adalah ulangtahun si pemarah tadi. Ia pun menjadikan mement itu untuk membalas rasa sakitnya. Ia membingkai kadou itu secantik mungkin dan diberikan saat hari spesialnya.


Diawali dengan sentuhan tangan dibahu dan bermandikan doa ta’liful qulub ia pun memberanikan diri ,“Kawan, barakallah fiy umrik ya, Ini hadiah untukmu”. Dengan canggungnya sang kawan terdiam dan mengucapkan terimakasih dengan wajah datar.


Dua minggu kemudian sang kawan yang pemarah tadi menghubungi sahabat saya lewat sms memintanya untuk jadi murobbinya / guru ngaji dan memohon agar diajarkan doa-doa sholat. Kebetulan sang kawan tadi adalah orang yang masih auwam dalam agama, maka pada saat itu jadilah mereka berdua sahabat yang saling merindukan dalam kebaikan. Sekalipun masih dalam tahap proses sang pemarah tadi berbisik ingin seperti sahabat saya yang anggun dalam berhijab.


Hmm.., ^_^ Sengguhnya Allah maha membolak balikan mata hati, jadi ketika kita bertemu dengan orang yang memiliki sudut pandang yang berbeda maka jangan tinggalkan dia, karena bisa jadi kita akan menemukan sudut pandang baru dalam menyelaraskan suatu kebaikan.


Kata sahabat saya Inilah cara sederhananya untuk membingkai dakwah agar terlihat cantik dan mempesona, orang- orang yang menyakitinya adalah lahan dakwah yang ia koleksi untuk digarap menjadi tabungan amal jariyahnya.


Doa ini yang sering sahabat saya amalkan ketika disakiti sambil membayangkan wajahnya


“Ya Allah, sesungguhnya engkau maha mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepadaMu, bersatu dalam rangka menyeru (dakwah dijalan) Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, Ya Allah, abadikankanlah kasih sayangnya, tunjukanlah jalannya. Dan penuhilah dengan cahayaMu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalanMu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik penolong. Aamiin. Dan semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada muhammad, kepada keluarganya dan semua sahabatnya.

37 senja:

Amir pomalo mengatakan...

Subhanallah... semacam kena tamparan membaca tulisannya.

Ayu Citraningtias mengatakan...

saya juga masih susah mengontrol emosi walopun gak sampe marah2 di depan publik. saya kalo marah itu diem dan bisa berjam-jam, padahal itu dosa kalo saya lakukan ke suami

Nol kecil mengatakan...

Hiks... tamparan? Maaf yaa hehehe

Nol kecil mengatakan...

Hmm iyaa bunda...
Mgkin itu salah satu hikmah mengapa rosul mengibaratkan orang yg paling kuat adalah yg bisa menahan amarah krn memang susah sekali mengendalikannya...

Vhoy Syazwana mengatakan...

Sentilan yg sangat mengena. Luar biasa sahabatnya Mak. Harus belajar kontrol emosi terus ini uhuhu

Nol kecil mengatakan...

Iyaa mak... belajar mengontrol emosi adalah pekerjaan orang yg berkelas di langit lazuardi

Ayuri Wirawan mengatakan...

Salah satu yang membedakan orang berpendidikan adalah mampu untuk mengontrol emosinya, salam kenal mbk

Heni Puspita mengatakan...

Kalau dibalas dengan cara keras juga, sesaat mungkin puas, tapi akibatnya malah memperkeruh keadaan ya.

arum kusuma mengatakan...

Subhanallah.... :-)

Nol kecil mengatakan...

Exactly..... berpendidikan dan beradab....
Salam santun mbak sayang

Nol kecil mengatakan...

Iya mbak... dan menurunkan wibawa...

Nol kecil mengatakan...

Eeh ada dek arum... 😊

Alexander Gunawan mengatakan...

dalam bnget makna tulisannya hehehe

Nol kecil mengatakan...

Hehe.... dalem ajaa

Febrian Rahman mengatakan...

orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan emosinya ketika di teriaki orang . setuju banget sama kata - kata ini tapi mempratekkan susah banget

Nol kecil mengatakan...

Hehe... di asah dek... lama lama jadi biasaa... saya juga masih belajar mengamalkan...

Liswanti Pertiwi mengatakan...

Dulu susah bnget nahan emosi, bahkan siapapun kena. Tapi smnjak terus blajar mengontrol, karena emosi itu bisa bikin jiwa tak tenang. Perlahan bisa juga mengatasi emosi.

Patah Online mengatakan...

hal yang paling susah kalau ngontrol emosi, tapi kalu dituruti terus juga tidak baik. masih tahab belajar, kedepanya biar bisa lebih sabar dalam menjalani kehidupan :D

Eksa Studio mengatakan...

Wah emosi kadang emang bikin masalah tambah tambah ya ??
Saya kalau emosi pasti diem daripada bicara menyakitkan banting barang merugikan. Hehehe

Nol kecil mengatakan...

Wah Alhamdulillah...
Kecerdasan emosi mengalahkan kecerdasan yang lain...
Semangat menata emosi

Nol kecil mengatakan...

Allahuma aamiiin....
Semangaat menjadi pribadi cerdas ketika berhadapan dengan emosi..^^

Nol kecil mengatakan...

Hehehe aduh jangan sampe banting barang...hehehe
Siip diam diam menderaskan doa ^^

izzawa mengatakan...

Sebagian kita kdg menjadi ujian bagi sebagian yg lain ya uti ya salah satunya ya ttg sikap td...
trmaksih pencerahanya muti

izzawa mengatakan...

Sebagian kita kdg menjadi ujian bagi sebagian yg lain ya uti ya salah satunya ya ttg sikap td...
trmaksih pencerahanya muti

Gustyanita Pratiwi mengatakan...

Aku pernah, yg ngomongnya kenceng ntu tetanggaku yg rese huhu

Oka Nurlaila mengatakan...

kalau marah saya seringnya ngedumel dalam hati, enggak bisa diungkapkan atau diucapkan. Ternyata sikap saya itu masih belum anggun dalam mengemas emosi ya...??? hem :( *semangat memperbaiki diri*

Nol kecil mengatakan...

Terimakasih mbak Izzawa sayang......
Makasih udah mampir.....

faris firmansyah mengatakan...

Sejak umurku menginjak remaja aku sangat protektif sama emosi, bahkan pas aku diomelin cewe yg cerewet di depan umum pun cuma aku liatin dgn tatapan tajam dan ujung2nya dia kabur pas aku ikutin dia lari.

Tapi pernah 1x aku ngelepasin emosi di depan temen2ku gara2nya mereka ngabisin makananku buat buka puasa padahal sekos-kosan cuma aku sendiri yg puasa.

Hehe, kepanjangan ya komenku.. :D

Ahmad Zaelani mengatakan...

nahan emosi itu lebih susah ketibang nahan pengen b*ker gan :D

Gusti Indah Primadona mengatakan...

memang kadang-kadang kalo ada yang marah pengen bales marah juga, harga diri kata orang-orang, tapi ya gak ada manfaatnya juga, malah bisa berkelanjutan gak selesai-selesai bahkan sampai mendendam, tapi kalau hanya dibalas dengan senyuman, kadang-kadang sakit hati

Reski Amalia Nurpratiwi mengatakan...

jadi terasadar aku mbak kalau aku kadang masih susah ngontrol emosi, bahkan kalau udah di pucak nya kadang bisa meledak ledak, tapi alhamdulillah kalau dibandingkan antara sekarang dan dulu, sekarang aku sudah lumayan bisa mengontrol emosi walau kadang di moment2 tertentu masih kurang kekontrol, makasih pencerahan nya mba

Citra Pradipta Hudoyo mengatakan...

Wah, sahabat td punya sifat yang mulia sekali.
Membalas perbuatan yang menyakitkan dengan perbuatan baik. Dan endingnya pun jd berakhir baik.. MasyaAllah :)

Lusi T mengatakan...

Artikel yg penuh perenungan. Saya sendiri suka bicara apa adanya tp tetap fokus ke masalah & orang yg bersangkutan. Sayang tak semua orang bisa seperti itu. Ada yg tidak merespon langsung, malah marah & curhat di medsos. Itu pelajaran buat saya, bahwa tdk semua orang bisa fokus ke intinya walaupun dia sdh dewasa & seorang leader. Lain kali ngomong kudu sesuai dg lawan bicara krn tak semua orang pandai mengemas emosi.

Rizki Ramdhani mengatakan...

Wah keren banget nih tulisannya :D

Pernah sih disinggung kayak gitu, tapi akunya milih diam aja. Soalnya gak mau ada urusan sama si perusuh itu, lah dia nganggap itu cuma candaan doang kalo kita nganggapnya serius kan bahaya. Bertengkar nanti jadinya.

Ara AnggARA mengatakan...

saya biasanya memilih diam saja. seperti tidak memperdulikan apa yang mereka kata.
males nanggapin orang dengan emosi, malah nggak ada habisnya ntar

Yoni Prawardayana mengatakan...

Saya benci orang temperamen :)

Doni Jaelani mengatakan...

beres baca bawaannya pengen keprok keprok tangan deh hehe

Iya ya kalo orang marah jangan dilawan marah, ibaratkan api ya harus dilawan dengan air