Sabtu, 14 November 2015 |

Terimakasih Eva

Bismillah...
Sabtu malam, berteman  bersama aksara. Sudah menjadi rutinitasku di Pondok untuk menuliskan kepingan cerita manis  di deary online. 

Setelah Agenda pekanan simaan  Al-Qur’an di Aula, aku segera bernyanyi bersama buku yang baru saja dihadiahkan oleh adik angkatku. Namanya Eva Yuwanida . Buku ini menjadi cemilanku tadi sore setelah mempersiapkan hafalan setoran jiyadah.

“Mbak coba mbak baca buku ini. Aku hadiahkan buku ini untuk mbak” .
Dengan pembawaannya yang kalem sangat terasa ada ketulusan terbungkus lewat buku yang ia sodorkan. 

Kuraih pemberiannya dengan segenggam doa dalam diam dan memeluknya dengan ucapan terimakasih.

Tanpa pengetahuan Eva, ternyata beberapa teman kamar mencium aroma buku yang  menjadi lambang persaudaraan kita.  Mereka satu persatu  protes.

“Ahh Eva.! kok mbak Muty yang dikasih bukunya? Mbak Muty itu udah banyak koleksi bukunyaa.Tuh liat tuh dilemarinya banyak bangat”. Teriak Rizkia, gadis sunda yang telah mengantongi 10 juz dalam hafalan hatinya.

Tiba-tiba seorang gadis bermata coklat  masuk dengan wajah cemberut manja. Muflih namanya.

“ Ih Eva! Kok Mbak muty yang dikasih?! Kamu tau nggak mbak Muty itu ngk pantas dikasih, orang dia aja udah mo nerbitin buku. Ih eva nggak adil.”

Suara teman-teman berhamburan disudut kamar. Meneriakan kecemburuan positive.
Aku terdiam seribu bahasa menampung dengar ekspresi canda mereka. Komentar yang menggelikan perutku untuk  menahan ketawa menyaksikan kekonyolan mereka. Huhu.

Eva terdiam bak patung hidup. Tak tau harus jawab apa diserbu protes dari anak-anak kamar. 

***
Kutatap judul bukunya. Sangat cantik untuk dipandang. Menggairahkan mata untuk segera menjamahinya. Aku membuka lembar awal. Namun terhenti saat menemukan kata itu berjejer rapi diantara gugusan aksara yang melingkarinya.

Menikah. Iya menikah ^_^ 

Ops..., Sesaat aku menutup buku itu. Mendiamkan sejenak.

Bukan kenapa-kenapa sih, cuman agak khawatir terseret motivasi kebaikan yang disuguhkan oleh sang penulis untuk menikah secepat ini. 

Dulu pernah baca buku pernikahan yang ditulis Salim A Fillah dan saat  itu aku jadi pengeen bangeet nikah sementara aku masih mahasiswa baru di English Department. :-D

Sihir yang ditularkan lewat tulisan itu sangat mempengaruhi pembaca menurutku.

Dan jujur kalau sekarang  ditanya soal nikah aku pun belum Siap :-D. Khususnya dalam masalah Ilmu dan mental. 


Aku belum bisa membagi fokus untuk sesuatu yang sama-sama baik.  dan yang paling utama Alqur'anku belum rampung.


“Mbak,bukunya udah dibaca?” 

Pertanyaan Eva menggalaukan lidahku untuk menjawab. 

Terasa menelan batu jika aku harus jujur belum membacanya. Jahat sekali aku tak menghargai pemberianny, pikirku.

“Emm..iya dek, tapi belum semuanya” . Jawabku seperlunya.
Dalam diam aku meniatkan setelah itu aku akan membacanya sampai khatam.

Hingga akhirnya aku pun membaca buku itu.
Kemudian menyimpulkan isi buku dengan bahasa paling sederhana pada catatan kecilku. 

Sesungguhnya menikah itu adalah Miitsaaqun ghaliizh, yang artinya perjanjian agung.

Menikah bukan sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi, bukan semata-mata saranna mendapatkan keturunan, dan apalagi hanya sebagai penyaluran libido seksualitas atau pelampiasan nafsu syahwat belaka.

***

Oia.. bythewey anywey baswey kemarin aku sempat sedih memendung air tanpa awan, nyaris tergunting fokusku ketika ujian semester Alqur’an.

Aku dikomentari oleh seseorang, dia mendoakanku  dengan sangat manis tapi menyesakkan perasaan. Sang Tuan ngomong ke orang lain kalau aku akan bernasib sama dengan tokoh zahrana yang menikahnya di usian 40 seperti dalam novel habiburahman. 

Alasannya karena aku belum menerima kebaikan dunia yang ia tawarkan. Katanya Aku terlalu ideal dan nggak realistis :-D gitu. Hehe.

Melalui aksara ini aku ingin membisikan kepada kamu, iya kamu yang nyaris sempurna dimata semua orang ^_^ , bahwa menikah bukan kompetisi untuk dibangga-banggakan di dunia, tapi ini adalah sarana untuk melengkapi ibadah kita kepada Allah

Menikah itu yang paling penting adalah menata niat dan kesiapan mental.

Menikah tidak tergantung kemampuan finansial atau umur dan syarat-syarat yang lain yang hanya menyebabkan seseorang menjadi beban untuk melangkah menuju pelaminan.

Dengan mental yang kuat in syaa Allah orang yang memasuki jenjang pernikahan akan mampu mengatasi masalah yang menghadang. 

Dan tidaklah mental itu dapat diperoleh kecuali karena adanya “hubungan khusus” dengan sang pencipta, yakni tawakkal.

Sebab tawakal adalah senjata yang tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang yang mengerti akan dirinya, mengerti akan kehambaannya dan mengerti akan kelemahannya.

Dan yang terpenting bahwa menikah itu amanah dan tanggung jawab kita pada Allah. 
Bukan untuk dibanggakan kepada dunia dengan menggunakan atribut.
Aah udah ah, ini hanya kepingan cerita kemarin senja ^_^


***

Sekali lagi terimakasih dik Eva.  Maaf belum bisa meriview isi buku ^_^. Nantilah.Tangan ini masih enggan mengulas isi buku yang aku sendiri belum bisa mengamalkan untuk saat ini. hehe

Semoga semangkuk ilmu ini menjadi bagian ilmu yang berkah ketika suatu hari mbak muty mengamalkannya bersama pasangan halal. Hhe.


Kututup jendela buku. Ku endapkan semua isinya dalam catatan harian pra nikah. 
Once again, thanks a million for my beloved sister, Eva sholehah. Calon dokter penghafal Alqur'an ^_^


32 senja:

arum kusuma mengatakan...

Ingat jaman di asrama dulu ada kakak dan ade angkat..

Iya kak Muty, semoga lekas dapet pasangan yang halal ya.. biar bisa mengamalkan ilmu ilmunya hehehe...

Subhanallah.. Kak Eva, calon dokter penghafal Al-quran... :-)

Rahul Syarif mengatakan...

Wah, calon dokter yah.. Hmm, apalagi penghafal Al-quran gitu, ini baru calo istri yang sholehah. :)

yunior usop mengatakan...

bahasannya gue belom paham, apalagi menikah..
sebuah pilihan seumur hidup yang belom gue jalanin.

tapi kalo sudah ditodong disuruh nikah cepet, itu gue kira masalahnya beda, gak bisa disamain sama ini. ada juga gue baca sebuah artikel yang gue baca, ketika dia ditanya temennya kapan nikah.. dia tanya balik, apakah yang menikah itu bahagia semua, rasio pernikahan yang akhirnya bahagia dan enggak itu banyakan mana.. sumpah itu artikel absurd.. lupa gue linknya..haha

Ara AnggARA mengatakan...

waduh doanya. 40 tahun.
mau diaminkan ya nggak tega rasanya.

semoga lekas siap jadi tidak perlu menunggu lama agar bisa melengkapi kesempurnaan hidup sebagai wanita yang bisa disebut sebagai Ibu

didie hahak mengatakan...

Sejuk hati baca yang beginian malam-malam. Muehehehe.
Menikah memang bukan perkara yang mudah ya mbak. Perlu banyak persiapan.
Jadi, kira-kira di umur berapa mbak mau nikah?

wahyu yuwono mengatakan...

Enak banget dikasi buku, saya kalo mau baca buku dengan gratis harus minjam ke teman yang suka baca juga.

Adem banget baca beginian, jadi lebih mengerti tentang pernikahan. Meskipun umur masih kecil dan kuliah juga belum kelar, tapi menikah pasti tetap akan dijalani. Hmm.. belum terpikirkan lah :D

Rizali Rusydan mengatakan...

menikahlah disaat yg tepat dan moment yg tepat. mwmang langkah, jodoh, rezeki, pertemuan dan mau Alah yg menentukan sebagai hamba kita hanya perlu usaha.

benersih mbak, nikh itu butuh kesiapan mental dan kemantaoan hati.

Okky Helja mengatakan...

salah satu hadiah yang menarik menurutku memang buku. senengnya hehe

memang menikah bukan tentang kompetisi, tapi menikah merupakan refleksi diri, jadi jangan minder yang sampe sekarang belom juga dapat jodoh. Allah tahu yang terbaik buat hambanya

Mugniar mengatakan...

Setuju sama ini: Dan yang terpenting bahwa menikah itu amanah dan tanggung jawab kita pada Allah. Bukan untuk dibanggakan kepada dunia.

Betul sekali itu Muthy ...

MEmang orang harus siap menikah pada saatnya tapi mempersiapkan diri juga penting. Saya pikir pendapat Muthy tak ada salahnya biarlah orang mau bilang apa soal usia. KARENA begitu memasuki gerbang pernikahan tak ada kata mundur lagi. Menikah itu bagai memasuki tembok yang kita tidak tahu apa yang berada di baliknya.

Banyak hal yangtak terbayangkan sebelumnya di balik tembok itu.

Memang menikah itu mitsaqan ghalizha, melengkapi separuh ibadah tapi tanggung jawabnya na'udzu billah ... tidak main2 pula.

Jangan menikah hanya karena dorongan orang, hanya karena takut usia terlalu begini terlalu begitu, atau hanya karena takut dibilang terlalu ideal ya Muthy.

Mintalah pada Allah agar Dia memberi tanda pada Muthy apabila waktunya tiba ;)

Anjar Sundari mengatakan...

Tidak punya dan nggak ada yg pernah memberiku buku, aku belajar hidup secara otodidak, dan kuterjemahkan sendiri tanpa ada guru...

Hidupku adalah kesimpulan dr apa yg kulihat kudengar dan kurasakan, bukan dari ajaran orang pintar dan terkenal...

Aku adalah orang bodoh yang miskin ilmu dan tidak pernah diajarkan tata krama yang sebenarnya...

** hehehe...malah curhat...

>> eh template nya baru ya mbak Muty...kerennn... :)

ida Tahmidah mengatakan...

Setuju bahwa menikah adalah tanggung jawab, amanah dan bukan sesuatu yg harus dibanggakan, bukan pula sebuah kompetisi. Yang harus diingat seorang akhwat ketika menerima atau menolak khitbah harus betul2 istikhoroh, bukan masalah like dan dislike. Kalau din sang calon sudah bagus pasrahkan semua sama Allah jangan sampai ditolak karena kita tidak suka, siapa tahu itu mungkin jodoh kita yang kalau kita tolak berarti kita kehilangan jodoh kita di dunia... :)

Arian Sahidi mengatakan...

Insha Allah, semua akan menikah pada waktunya. Jadi inget zaman sering banget ditanya kapan nikah sama murid-murid saya *malah curhat*. Yg penting selalu berusaha mempersiapkan diri menjadi yg terbaik. Sesuai janji Allah, jodoh adalah cerminan dr diri kita sendri.

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Hehehe Aamiiin....
Makasiih adik Arum sholehah...

Ayoo Arum juga ikutan ngafal....^^

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Aamiin
Makasih Rahul

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Yang jelas menikah itu bak dua sisi mata uang, ada madu dan empedunya gan^^
Tergantung kondisi rumah kita (hati dan mental) bagaimana cara menyikapinya agar tercipta RT yg dirindukan langit ...^^
Aah bahasan gw trlu berat yaah

Windah Saputro mengatakan...

subhanallah, kayaknya harus beli buku ini buat bahan bacaanku deh

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Hehehe nanti kalau Mas Ara aminkan ,malaikat akan mendoakan mas ara juga dgb doa yg sama wkwk

Thanks yaa Mas..

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Ckckck pertanyaanmu itu loh diedie..
Doain aja yahh
Yah ngk taulah.... kan jodoh mati dan rezeki yg tau hanya Allah...
Hhehehe

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Ciyee yg umurnya masih keciil :-D

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Wuah..
Aamiin aamiin

Ciyee yg bentar lg mau nikah.. hehehe
Makasih pak guru

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Tks Rizki ...

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Ciyeee okky... manteeep bgeet
Tks okky

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Komentar yg bikin muty merinding adalah komentarnya bunda..Niar
Tks bunda atas nasehatnya
Sangat mencerahkan muty

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Wah justru yg otodidak pasti lebih tajam jalan berfikirnya...
Ty mesti belajar dr mbak Anjar^^

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Iya bu
Terimakasih bu ^^

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Sip Bunda^^

Edotz Herjunot mengatakan...

Duh.. solehah2 semua nih pasti lingkungannya hehe

Mungkin kenapa Eva ngasihnya ke kamu biar kamu nggak segera memantapkan diri buat nikah kali hehe

Tapi apapun itu, Eva pasti orangnya baik, mau ngasih buku dengan tulus dan nggak cuma2 ngasihnya tapi emang ada maksudnya..

Semoga bisa segera bertemu jodoh yang tepat ya.. jangan kelamaan nunggu buat siap, :D

Rebellina Santy mengatakan...

Masya Allah.., terharu bacanya. Menikah itu butuh kesiapan mental, saya setuju. Karena menikah bukan sekedar ijab kabul semata. Akan bnayak cobaan kedepannya, tidak manis semata. Kalau sudah siap mental, insha Allah tidak akan kaget dnegan banyaknya rintangan yang harus dilewati. Salam kenal...

Kang Ibay mengatakan...

Pertanyannya: yang menyuruh menikah itu siapa, ALLAH SWT kan? kenapa harus khawatir "belum bisa membagi fokus". bukannya Dia Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu. Oh ya, perasaan was-was itu datangnya dari Syaitan kan ya?



Salam.

khairul Leon mengatakan...

woah Future Wife banget ini :)

Inay farich mengatakan...

waw mb muthiiii subhanalloh :) :)

kok aku baru tau mb dikasih buku sama eva :P :o

nalanda catumorli mengatakan...

Betul.. menikah bukan kompetisi..
Semoga Allah memberikan yg terbaik, sebab hanya Allah lah yg tau apa yg terbaik :)