Minggu, 01 November 2015 |

Resah dalam rindu

Aku merasakan ada ruang kosong ketika menjalankan rutinitas. Ruangan itu begitu sunyi. Sesekali hanya terdengar suara desahan nafas, entah bagaimana batin ini bisa berdebat. Sambung menyambung menjadi satu, namun tidak juga  bertemu pada titik tujuan hingga fajar menyingsing.

Bawaanya pengen nangis tapi nggak tau masalahnya apa. Pikiranku liar kemana-mana. Bahkan terlintas aku pengen pulang rumah. Entahlah apapun tentang rumah akan selalu jadi tempat berpulangnya rindu bagi seorang perantau.

Semalam aja kita diharuskan menyetor 1 juz kepada para senior, aku lebih memilih tidur lebih awal. Semangatku entah terdampar dimana. Aku lagi ingin membenamkan diri.

“Mbak, malam ini aku izin belum nyetor ya, soalnya aku belum murojaah (mengulangi hafalan yang sudah pernah dihafal)”

“Iya yang penting kamu harus melunasi hutangmu besok malam. Besok kamu harus nyetor dua kali”.

 Alhamdulillah Kakak pendampingku ramah. Dia paham melihat kondisiku.Tadinya aku ingin kasih alasan capek, tapi semua santri  juga capek deh. Soalnya kita seluruh santri selama dua hari ada agenda khataman perbulan. Dari ba’da shubuh hingga isya kita full di mesjid. Plus persiapan wisudah yang mau khataman 30 juz.

Aku kok sensitif bangat. Teman-teman yang lagi bercanda aja aku sempat berair.

“Mbak lagi PMS ya?” Tanya adik tingkatku yang masih SMA.

***
Setelah khataman selesai. Dilanjutkan agenda Kajian Hadis oleh Ustat Hatta Syamsudin ,Lc. Tapi karena beliau tidak bisa hadir akhirnya pemateri diganti oleh ustat yang selalu mengajari kami Tajwid, Ustat Zumroni Alhafidz.
Diakhir pengajian ustatku ngomong gini

“Apakah kalian pernah jatuh cinta?”.

Semua santri putri putra pada heboh. Kalau pada ngomongin cinta pasti seru banget dikalangan para santri. 

“Biasanya orang yang jatuh cinta itu akan memberikan segalanya untuk orang yang dicintainya. Bahkan naudzubillah tsumma naudzubillah ada yang rela menyerahkan keperawanannya.Padahal itu hanya nafsu yang bermototif cinta.

Pak Ustat melemparkan pertanyaan lagi

Bagaimana rasanya jika yang mencintai kita  bukanlah manusia? 
Tapi   Allah?” 

Jika manusia saja akan memberikan segalanya bagi kepada orang yang ia cintai, apalagi yang mencintai kita adalah Allah karena ketaatan padaNya?

Membayangkan gimana rasanya dicintai oleh Allah, pasti tanpa diminta kita akan dikasih melebihi dari yang kita sangka. 
Yang maksiat aja masih diberi kenikmatan apalagi jika itu orang yang Dia istimewakan?.

Aku membatin pengen nangis, menyesali kelalaianku  yang nggak nyetor hafalan dan menodai sebongkah amalku yang belum seberapa. 

***
Hingga akhirnya penyebab keresahan pun terjawab. Tanteku nelvon mengabarkan bahwa papaku masuk RS udah 4 hari. Tak ada yang berani mengabarkan berita ini termasuk mama dan adikku.

Lemas rasanya ketika mengetahui separuh harapanku sementara terlilit selang infus. Pantesan hati ini terasa ingin mengkontak batinnya papa.

Ku ambil ponsel segera menelvon mama. Tapi tak ada suara kesedihan, mama malah sangat ceria. Apa mama masih mau menyembunyikan hal ini? Belum sempat aku menanyakan kabar papa, tapi pertanyaan mama yang menundukan kesabaranku untuk menahan tangis agar tak pecah.

“Hai.. Apa kabar sayang?”
“Udah makan?”
“Gimana kabar tulisannya di Majalah? Feenya udah dikirim kah?
“Gimana kabar Alqur’annya?”

Aah mama... Aggun sekali menyembunyikan sesuatu dari anaknya. Dari dulu seperti itu.
Mama tak ingin menggangu ketenanganku, menggunting kefokusanku dalam belajar.

Mama.. Muty pengen ngomong sama papa, kangen papa”

Hening beberapa saat..
Akhirnya mama jujur.

“Nak, papa kemarin sempat masuk RS. Tapi sekarang papa udah sehat. Kalau udah diizinkan dokter papa mau pulag hari ini”. Mama masih dengan suara cerianya.

Rasa lega itu ada, tapi masih saja resah itu menguasai perasanku. Walaupun papa udah bilang kalau papa baik-baik aja.

Satu kalimat yang membuat air mataku berserak, 
“Nak..Kalau mulai merindu mama papa, segera buka Alqur’annya ya? Biar cepat selesai, dan cepat pulang ke Gorontalo.”

Karena di jauh ada rindu

Karena di rindu ada Doa


Get well soon Papa 

Anakmu yang resah dalam rindu

Solo di November yang basah

Muthmainnah

27 senja:

Rizki Ramdhani mengatakan...

Semangat ya hafalan Qurannya.

Orang yang lagi jatuh cinta selalu memberikan segalanya untuk orang yang dicintanya. Emang benar tapi jangan sampai terlalu berlebih.

Semoga papanya cepat sembuh.

Sketsa Wajah mengatakan...

Semoga, mereka yang sama-sama merindu, bisa dipertemukan di waktu yang tepat :)

Ara AnggARA mengatakan...

semangat mbak. sya doakan juga supaya kamu bisa cepat selesai Alqur'annya biar bisa ketemu sama ayah dan ibunya.

akan sangat bahagia sekali jika dicintai oleh Allah

Nursahid Rm mengatakan...

musah-mudahan berkah ilmunya mbak.smoga cepet selesai ya, dan jadi muslimah yang baik.

Semoga bapaknya cepet sembuh

Yudi Rahardjo mengatakan...

Semoga dilancarkan semuanya ya. mba
semoga keluarga juga selalu dalam lindungan Allah :D

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Allahuma aamiin..

Makasiih yaa kawan ^^

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Trrimakasiih oom :)
Aamiin

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Eh ada Mas Ara...
Nggeh mas...
Matur nuwun

Aamiin

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Aamiin...buat nur juga semangat belajar yaa
Makasiih dik

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Aamiin
Makasih mas Yudi :-D

Anjar Sundari mengatakan...

semoga papa lekas sembuh ya mbak Muty...bisa dibayangkan deh gimana rasanya berjauhan dengan orang-orang tercinta dan disana papa sedang kurang sehat...

semoga belajarnya tambah semangat ya mbak... :)

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Hiiks mbaak Anjaaaaaar.....pengen menghambur di pundahnya mbak.
Makasih mbakku

Allahuma aamiin..

khulatul mubarokah mengatakan...

Begitu lah orangtua. Kami anak-anak ayah dan ibu juga tidak pernah mendapat khabar dari rumah jika mereka sakit. Pas ayah kami meninggal, baru memberi khabar. Anak-anak tentu bertanya, tidak biasanya khabar mendadak. Jika sakit, psti masih disembunyikan. Tanpa bertanya, semua yang dirantau kompak menitikkan air mata. Tenggelam dalam tebakan yang memang nyata.

Mudah-mudaham bapak Mbak Muthmainnah lekas membaik. Aamiin

oh andrian mengatakan...

saling mendoakan itu jga bagian rindu yg dpt terobati,hingga nnti bisa bertemu lagi :D

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Iyaa bunda....
Ty disini kepikiran papa terus.
Allahuma aamiin....

Makasii bunda keylaku....

Muthmainnah Nasaru Muti'ah mengatakan...

Terimakasih mas Oh...
Aamiin

Muh Aldy Jabir mengatakan...

Jadikan rindu sebagai semangat menghaapal. :)

arum kusuma mengatakan...

Semangat menghafal Al-Quran nya kak..Semoga lekas hafal dan cepet bertemu keluarga..

Iya kak, orang tua gak mau lihat anaknya sedih.. Aku juga kalo ada kabar apa apa dirumah gak dikasih tau. Mungkinkah takut kawatir atau kepikiran..
Sekali lagi semangat kaak....!! :-)

Desa Seibaru mengatakan...

jadi terbawa sedih dan gundah sayah

Yati Rachmat mengatakan...

Wah, bagus betul konten blognya. Bunda tidak bisa membuat cerita dalam bentuk syair, tapi bunda suka membacanya, walaupun harus ber-ulang-ulang karena terkadang gak ngerti. Salut buat Muthmainah. Kapan2 yuk, hadir kalau ada acara seperti ini lagi. Kita bisa kopdar.

devina putri mengatakan...

semoga papah nya cepat sembuh kembali ya mba,
semangat terus buat menghafal al-quran nya mba :)

Obat Tradisional Miom mengatakan...

Semoga ayahnya bisa cepat sembuh ya mba :)

Achmad Muttohar mengatakan...

Semangat. Wah tahfidz. calon penghuni surga nih. Kepengin juga bisa kayak kakak. Semoga lekas sembuh ya buat papa. :)

Rohma azha mengatakan...

Semoga papa nya mbak.e segera diberikan kesembuhan dan kesehatan ya mbak...
dan semoga hafalan al-qur'annya mbak.e juga bisa segera khatam...
Salam kenal ya mbak.e..
baru pertama nih, kesini, afwan ya mbak... heee

Reski Amalia Nurpratiwi mengatakan...

minder aku mba baca postingan kamu yang ini, disaat kamu sedang menghafal al quran, sedangkan aku, sholat saja kadang masih keteteran, Ya Allah. Semoga habis baca postingan ini aku jadi makin semangat untuk memperbaiki agamaku :D

Rebellina Santy mengatakan...

semoga istiqamah terus ya dalam prose menghafal Al qur'annya. Kerinduan pada orangtua itu wajar, apalgi bila tumbuh dalam lingkungan kasih sayang. Saya pengen juga menghafal Qur'an, tetapi ternyata otak saya tidak mampu lagi menghafal cepat seperti dulu. Mudah-mudahn belum terlambat setidaknya berusaha menghafal sebayak yang saya mampu. Begitu juga anak-anak, sedang dalam proses ke sana.
Btw, syair-syairnya bagus. Indah dan sejuk dibaca :)

Merry mengatakan...

Assalamualaikum...Habibaty,I miss you more than you know :) saat hening membaca celotehmu dalam tulisan ini seketika butiran bening jatuh yang teringat adalah nasihatmu, dulu bisa bergandengan saat eyi sedih tp sekarang? hanya doa yang buat kita bersatu.. begitu juga untuk Papa dan Mama k muti, Hanya doa yang membuat mereka sabar dan kuat menanti Bidadari tak bersayap dalam keluargga itu. Buat sosok pemain gitar yang romantis...cepat sehat om :) In syaa Allah kita kumpul lagi yaa AAMIIN.. Merindumukak #Peluk