Rabu, 19 Agustus 2015 |

Sabar dalam belajar AgamaNya

                                                         
Menjadi seorang hafidzah adalah cita-cita tertinggi yang mulai saya abadikan dalam peta hidup di dinding kamar ketika detik-detik terakhir menghabiskan masa-masa kuliah di Universitas Negeri Gorontalo. 

Semangat itu semakin kuat ketika  menyaksikan anak usia 3 tahun yang bisa menghafal 30 juz. Awalnya sempat berfikir apakah saya udah telat? Masih adakah kesempatan untuk saya mengikuti jejak anak kecil itu?

Akhirnya saya  putuskan akan merantau ke Luar daerah setelah wisudah sarjana. Saya mulai mencari pondok tahfidz di internet. Ada juga beberapa pondok juga yang direkomendasikan oleh teman. Saya pun mengikutinya. Ternyata  nggak lulus karena belum punya tabungan hafalan, minimal 3 juz. 

Saya bukanlah lulusan pondok pesantren, dulu sekolahnya di umum yang pelajaran agamanya mungkin nggak sebanyak di Pondok Pesantren. Jadi bisa dipastikan  belum punya tabungan hafalan sama sekali. Hati ini terpanggil segera belajar Alqur’an sebelum telat lebih jauh.

***
Saya mendapat saran dari teman untuk belajar alqur’an di Solo.  Dengan tekad lillahita’ala memberanikan diri untuk izin ke orangtua. 

Ayah dan Ibu saat itu kaget dan tak mau mengizinkan anak putrinya untuk merantau, khususnya ibu. Apalagi di jawa saya nggak punya keluarga sama sekali. 

Sang Ibu merayu dan menawari saya  kuliah S2 di Gorontalo agar masih bisa bergandeng cerita bersama beliau. 
Saya segera menelvon sahabat saya, Mery Motoliang untuk mendaftar bareng  di pasca sarjana UNG .

***
Dalam perjalanan menuju kampus, jujur hati saya berkecamuk dengan sejuta kebimbangan dan ragu. Saya belum ingin kuliah lagi. Saya gelisah.  Hati saya terasa berat dan masih  ingin belajar Alqur'an. Maka saya putuskan untuk pulang kerumah dan memohon maaf  ke ibu belum ingin lanjut. Uang pendaftarannya saya kembalikan.

Akhirnya Selama 6 bulan saya masih mengabdikan diri  untuk mengamalkan ilmu sarjana saya di dua tempat, SMP dan SMA sebagai guru kontrak,  Saya pun membuka kelas privat dan kursus bahasa Inggris. 
Hal ini saya lakukan untuk menuruti permintaan ayah ibu dan sambil menunggu waktu kapan hati ayah dan ibu tergerak untuk mengiznkan saya untuk belajar agama lebih dalam. Seandainya di tempat saya punya lembaga penghafal alqur’an khusus wanita mungkin  tak sejauh ini saya ingin merantau.

Berbagai  usaha saya lakuin untuk menarik simpati ayah ibu, mulai menempel kata-kata motivasi dari Allah yang ditunjukan kepada para orangtua yang memiliki anak penghafal Alqur’an. 

Secantik mungkin saya tempelkan di lemari pakaian ayah dan ibu. Di sudut tempat yang sering terlihat oleh mereka terhiasi potongan hadis dan alqur’an . Dengan harapan ibu bapak bisa terenyuh ketika membaca Janji - janji Allah yang diabadikan dalam FirmanNya.
***

Doa- doa pun saya langitkan kepada Maha membolak-balikan mata hati bak mengayuh sepeda untuk melejitkan terkabulnya harapan.
Teriakan permohonan di kaki malam pun akhirnya menembus Arsy-Nya. Jika Allah katakan "terjadi" maka terjadilah. I do believe that.

***
Alhamdulillah 10 september 2014 saya   sujud syukur  terharu karena Allah telah megabulkan doa-doa istimewa yang selalu saya langitkan. 

Ayah Ibu akhirnya ridho menyerahkan hidup mati putri sulungnya  hanya kepada Allah di daerah perantauan untuk mengejar apa yang saya cita-citakan kepada langit.Gorontalo -Solo. 
Leaving on a jet plane..





***

Di Pondok Saya banyak sekali menerjemahkan kejadian dan rasa yang diselipkan  lewat sebongkah godaan yang mungkin ini adalah cara Allah untuk menguji kesungguhan hambaNya dalam belajar AgamaNya. Entah itu ujian dalam hal kebaikan atau keburukan. Hampir saja saya berputus asa dari Rahmat Allah.


Banyak pelajaran yang mengaharuskan saya untuk lebih banyak belajar , salah satunya adalah Ilmu tentang sabar. Iya selama di pondok sabar adalah pelajaran yang selalu Allah suguhi lewat berbagai kepingan aktivitas untuk mengasah mental dalam menyelesaikan target hafalan.

 Sabar yang sempat menguras semangat adalah ketika hampir 2 bulan lebih saya mesti jalan ditempat di juz 30 hanya karena bacaan tajwid/ tahsin yang masih compang-camping. Rasanya ingin cepat-cepat segera masuk hafalan baru tapi setelah saya muhasabah dan ditelaah buat apa tergesa-gesa ingin masuk hafalan baru sementara bacaan tajwid di juz 30 masih banyak yang keliru. 

Bukankah membaca Alqur’an dengan tartil adalah fardhu 'ain? Begitu motivasi saya dalam diam ketika syetan mulai menggalaukan pikiran saya ketika   diajari tahsin oleh ustat mulai dari Alfatihah, surah an-nas dll sampai berhari-hari.

"Dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil (perlahan-lahan) (Al- Muzzammil : 4)

Dan Sabar yang paling menantang adalah sabar dalam mempertahankan kebaikan dan ketaatan agar tidak layu  dengan terbitnya sebuah cerita dari  orang-orang yang mungkin hanya menciutkan harapan untuk menjadi keluarga Alqur'an.

Iya semangkuk kenyataan yang sempat menggalaukan fokus menghafal ketika ada sang tuan mencipta tanya bahwa buat apa mengahafal Alqur’an ? nanti titelnya apa? Terus kerjanya dimana? Nanti kamu akan jadi apa? Gajinya gedde nggak kalau kamu jadi ustadzah? Kamu kan lulusan bahasa inggris? Kasian ilmumu ngak di amalkan.

Pertanyaan kalem ini mengundang senyum bijak untuk tidak mendebat, karena setiap orang punya pilihan masing-masing. Dan setiap orang itu memiliki frekuensi berbeda dalam hal menerjemahkan kesuksesan, bukankah setiap pribadi telah memiliki frekuensi pemahaman yang berbeda? Iya..tergantung dari sisi mana mereka telah dimatangkan.  Dimatangkan oleh bumi? Atau langit? 

Selanjutnya ada yang menggoda tawaran kebaikan yang membuat saya dilema. Seorang ikhwan yang kata mereka super kaya, mapan berpendidikan tinggi untuk ditaarufkan kepada saya, dan sempat ditakut-takuti saya akan menyesal jika menolaknya tanpa merasa tahu bahwa saya sementara berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan fokus agar segera khatam tepat waktu dan kemudian melanjutkan kebaikan lainnya yang tentunya harus disegerakan.

Cerita yang beredar bahwa saya terlalu ideal tapi tidak realistis hingga dengan bijaknya mengatakan pada saya bahwa saya tidak akan mendapat jodoh sesuai kriteriamu jika sekarang tidak segera menikah. Alqur’an  itu gampang. Saya akan menjadi perawan tua dan bla bla bla...

Cerita ini kadang tidak ingin saya tangisi karena saya tau Allah bersama orang-orang yang ingin melangitkan NamaNya.  Saya pun tak menggubris apa cerita mereka. Dalam diam saya memohon berlindung dari apa yang mereka doakan kepada saya, karena saya yaakin Allah yang lebih tau apa yang terbaik untuk hambaNya. 

"Barangsiapa yang disibukkan oleh Al-Qur'an dalam rangka berdzikir kepadaKu,
 dan memohon kepadaKu niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaan kalam Allah daripada seluruh kalam selainNya, seperti keutamaan Allah atas makhlukNya. (HR. At-Turmudzi)

Hadis qudsi ini menambah kekuatan yakin saya bahwa Allah akan selalu mendukung saya. Saya ingin mencuri perhatian Allah dulu, Jika Allah telah jatuh cinta dengan hambaNya maka imposible Dia nggak akan mengabulkan harapan langit terhadap hambaNya . Dan  Kalaupun salah satu harapan itu pasangan terbaik yang diingkari sebagian orang terhadap diri saya, maka siapa yang lebih berkehendak? Seanggun mungkin saya menepis rasa kecewa dengan cerita yang mereka bingkai terhadap ramalan kehidupan saya.

***

Bila hidup selalu mendegarkan apa kata orang hampir dipastikan saya nggak akan jadi siapa-siapa dihadapanNya, Namun ketika saya menjadikan perkataan Allah sebagai acuan maka saya yakin penduduk langit dan bumi akan selalu mendukung.

Kata-kata Ali bin Abi Thalib juga selalu memompa semangat saya ketika futur mulai menggerogoti iman apalagi ketika cerita itu mereka terbitkan dalam aktivitas saya di Pondok. 

“ Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani) yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa pedihnya rasa sakit.”

Bilapun harus mengikuti perkataan manusia tentang diri saya, maka sejatinya saya selalu mendengarkan manusia yang selalu mengutip perkataan Allah. Salah seorang teman SMA yang telah menjadi seorang hafidz dan telah menikah, pernah berpesan :

Jika Alqur’an sudah mencintaimu dan kaupun telah mendarah daging untuk tidak melepaskannya dalam jedah waktu yang sudah kamu targetkan maka tak usah risau dengan masa depanmu, jodoh, keturunan, keuanganmu, pendidikanmu, karena Allah telah menjanjikan surga dunia akherat bagi para keluarga Alqur’an. 

Gunting semua keraguan yang ditiupkan syetan untuk memupuskan harapan langit. Sesungguhnya Allah akan memberi rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi para penolong agamaNya."

Terimakasih kawan yang merangkai cerita
Terimakasih Sabar yang mengasah rasa
Terimakasih Cerita yang menerbitkan tanya
Terimakasih senja yang masih malu-malu menyapa
Terimakasih anonim yang masih mencari pemiliknya 

"Wahai Orang- orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" ( Q.s Muhammad : 7)

Ba'da Pengajian Kitab
Solo dengan sejuta rasa.
 bersama Agustus ketika berusia 70


Pondok Tahfidz wa Ta'mil Mesjid Agung Surakarta

12 senja:

Ifan Andri Prastya mengatakan...

Masya Allah, cita-citanya sungguh mulia. Semoga tercapai ya Mbak. Aamiin :)

Salam kenal dari www.ifantastis.com - blogger wonogiri

khulatul mubarokah mengatakan...

Mabruuk, Saudariku ...

Nol kecil mengatakan...

Allahuma aamiin...
Terimakasih Ummu Khulatul :-)
Salam ukhuwah selalu..

nahlfajriah mengatakan...

Mas @Ifan Andri Prasetya :Aaamiin aamiin...
Makasih udah mampir di galeri saya..
Salam kenal juga..., siiip nanti saya siap-siap BW ke lapaknya mas...

dara agusti Maulidya mengatakan...

Salam kenal, mba.
Mimpi kita sama, menjadi penghafal quran, menjadi penjaga wahyu-Nya.
Semoga jalan kita selalu dimudahkan oleh Allah, ya, mba.
Ceritanya menginspirasi. Semangat! :)

Nol kecil mengatakan...

Masyaa Allah..

iyaa mbak Dara semoga kita dijauhkan dr berputus asa dr rahmat Allah yaa
Salam kenal berbalut ukhuwah dr Gorontalo-Solo ^^

Ayu Citraningtias mengatakan...

MasyaAllah mbakk.. saya iri dengan Anda, semoga istiqomah ya dan bisa dapat sertifikat hafidzah

Muh Aldy Jabir mengatakan...

Masya Allah ukh, antum memiliki tekad yang begitu kuat. Semoga Allah senantiasa menaungi ukhty nikmat rinainya keimanan dalam kehidupan ukhty. Salam kenal, dari blogger yang berusaha menebar kebaikan.

Nol kecil mengatakan...

Mbak Ayu Citraningtias : Allahuma aamiin... Makasih mbak atas doanya..^_^

Nol kecil mengatakan...

Mas Aldi :hmm :-) hehe... makasih udah mampir diblog sederhana saya..
salam kenal juga dari darah sulawesi. Allahuma aamiin
semoga bisa saling share dalam kebaikan :-)

Rizki Ramdhani mengatakan...

Sebelumnya salam kenal :)

Wah mulia sekali cita-citanya, emang gak ada sesuatu yang gak mungkin asal kita sudah niat ya.

Semoga senantiasa diberi kelancaran dalam menghafal Qur'an ya :)

Nol kecil mengatakan...

Salam kenal juga yaa mbak rizkia....

Allahuma aamiin.. makasih atas supportnya... doa yg sama buat mbak sayang....
Smga kita menjadi bagian dr keluarganya Alquran di dunia dan di langit...